Eksistensi Seni Budaya Indonesia Di Eropa

By | November 25, 2020

Eksistensi Seni Kritis ekonomi dunia pada 2008 kenyataannya tetap jadi dasar peraturan kebudayaan Uni Eropa sampai saat ini. Keadaan kritis yang berawal dari macetnya credit perumahan di Amerika Serikat itu mengakibatkan mekanisme produksi, yang dikuasai oleh beberapa aktor industri raksasa, tidak bisa hasilkan keuntungan karena berkurangnya daya membeli warga. Waktu itu, bank sentra didorong untuk ikut memompa dana untuk memberikan dana untuk bidang riil, yang sesungguhnya turut terancam likuiditas pasar.

Parlemen Uni Eropa, terhitung komisi untuk kebudayaan, menjawab ini dengan mengaplikasikan taktik yang ke arah pada perkembangan ekonomi dan kesempatan kerja. Programnya ialah Creative Europe. Taktik ini, untungnya, disokong oleh data yang memperlihatkan jika ada seputar 3,1% tenaga kerja di 25 negara EU bekerja di bagian kebudayaan, dengan sumbangsih PDB 2,6%. Pemerintahan UE lalu mencanangkan beberapa jadwal pada industri budaya dan bidang inovatif, diantaranya peningkatan manajemen, kewiraswastaan, dan pembukaan akses pada sumber permodalan.

Bank-yang sudah disentil di atas-dijadikan selaku faksi yang bisa memberi credit ke beberapa aktor bidang inovatif (secara pribadi atau lembaga), walau ada selalu kecemasan mengenai nilai utang negatif beberapa penerimanya. Minimal, sumber permodalan ini tetap perlu diupayakan selaku pilihan pendamping. Ingat berlangsung imbas langsung kritis ekonomi di masa awalnya: pemotongan bujet bidang kebudayaan dimulai dari tingkat nasional sampai regional.

Faktor yang ditegaskan ialah membuat jaringan terbuka (open network) instansi keuangan yang diutamakan untuk seni budaya. Mereka mengatakan seperti “cross sectoral strand”–ruang lintas bidangal yang menghadapkan faksi pendana dan faksi aktor seni. Ini memperlihatkan ada perombakan langkah pandang pada aktor inovatif yang dahulunya dilihat selaku tempat nirlaba, jadi sisi dari perkembangan ekonomi. Ide sarana agunan keuangan yang diupayakan Komisi Uni Eropa. Yang telah dipikir jauh awalnya, pada akhirnya bekerja mulai 2016 dengan target utang sebesar €750 juta dari bank.

Bukan bermakna realisasi lintas bidangal ini bisa dilakukan dengan gampang. Misalnya berlangsung dalam suatu komunitas di London pada 2009. Beberapa instansi keuangan di situ mengatakan berkeberatan dalam memberi utang ke industri inovatif. Pasti, tanggapan ini adalah tanggapan classic dari beberapa pemodal yang disuruh untuk melakukan investasi pada bidang kebudayaan.
Komisi Eropa mengaku jika sarana agunan utang tidak bisa secara sama rata layani bermacam subsektor kebudayaan. Sarana agunan utang diberi tergantung pada besar nilai keuntungannya. Untuk subsektor dengan pasar yang besar seperti games, musik, dan penerbitan. Pola permodalan ini dipandang seperti langkah kurangi keterikatan mereka pada bantuan pemerintahan.
Perundingan ke instansi keuangan menyertakan Dewan dan Parlemen Eropa. Hasil yang pertama ialah peluasan tempat agunan utang bank yang meliputi seluruh subsektor dengan macam tanda utang dan pengukur. Hasil yang ke-2 bisa disaksikan dari peruntukan dana Creative Europe sepanjang tahun berjalan 2014-2020. Dari keseluruhan bujet €1,46 milyar, 56% bujet jatuh ke subsektor audiovisual dan film. Sedang 31%-nya ke seni pementasan dan seni visual.