Melirik Cara Kinerja Kontrak Musisi

By | November 25, 2020

Kontrak Musisi Kontrak kerja ialah sisi penting dari sehari-harinya musikus, tetapi ada banyak dari mereka yang belum memahami masalah dokumen itu. Karena itu, Kami Musik Indonesia (KAMI), ide bersama Konsolidasi Seni dan Yayasan Ruma Beta, melangsungkan bedah kontrak musikus selaku serangkaian perayaan Hari Musik Nasional pada 9 Maret 2020.

“Musikus dan faksi lain dalam kontrak tempatnya harus sama dengan. Janganlah sampai musikus berada di status yang dirugikan,” tutur pengacara sekalian musikus, Kadri Mohammad, di awal dialog.

Kadri ialah moderator bincang-bincang di Warung Tjikini, M Bloc Ruang, itu. Tentang hal pembicaranya ialah Arry Syaff – advokat dan musikus – dan Jeane Phialsa, pemukul drum sekalian pendidik. Dialog fokus pada kontrak kerja untuk musikus hotel, restaurant, dan cafe, dan kontrak kerja musikus untuk konser.

Dalam dialog, Arry Syaff mengulas keharusan dan hak beberapa faksi dalam kontrak kerja konser musik. Keharusan khusus musikus ialah tampilkan yang terhebat di saat acara. Sedang keharusan khusus promotor ialah bayar musikus. Promotor harus sediakan tempat atraksi yang pantas dan fasilitas dan transportasi untuk musikus. Disamping itu, promotor harus mempromokan acara, jual ticket, dan bayar premi asuransi kecelakaan kerja.

Waktu konser, musikus ialah paling mengetahui beberapa lagu apa yang akan mengundang perhatian beberapa pemirsa. Tetapi, promotor perlu terjebak mengolah ide inovatif konser. Karena itu, musikus perlu konsultasi dengan promotor berkenaan daftar acara.

Disamping itu, kontrak perlu juga memberikan hak berkaitan performa audio visual. Jeane Phialsa bercerita kisah hidupnya pada saat tampil dalam konser yang selanjutnya ditayangkan ulangi di tv. Waktu itu, dia baru mengetahui jika ada hak ekonomi dari video yang disiarkan kembali lagi itu. Musikus yang dekat dipanggil Alsa itu merekomendasikan musikus untuk menampik klausul kontrak yang mengatakan hak cipta jadi punya pelaksana acara.

“Karenanya dampaknya periode panjang. TV nikmat sekali dapat re-run (menyiarkan ulangi) kembali, mendapat uang dari sana, sedang kita hanya bisa pembayarannya 1x. Jadi, jika dapat hak berkaitan dicantumin di kontrak,” katanya.
Waktu mengulas kontrak kerja musikus hotel, restaurant, dan cafe, Kadri mengatakan musikus perlu juga melek akan hak-haknya. Contoh, hak atas upah, sokongan, dan asuransi kesehatan yang sekarang relatif susah didapat. “Beberapa karyawan kantoran bekerja 9 to 5, tetapi beberapa vokalis kerja dari jam 9 malam sampai jam 2 pagi. Karena itu harus ada hal pemberian izin kesepakatan hak spesifik,” katanya.
Berdasar ketentuan tenaga kerja, kata Kadri, karyawan yang mulai bekerja dari jam 11 malam sampai jam 7 pagi punyai beberapa hak. Mereka memiliki hak diantarkan pulang, dikasih makanan yang bergizi, dan posisi toiletnya juga harus terjaga aman.
Diakhir dialog, Alsa mengingati musikus supaya jangan tergesa-gesa tanda-tangani kontrak. “Jangan sampai tanda-tangan kontrak dalam tempat. Meminta draft e-mail dahulu atau meminta kontraknya dibawa pulang untuk didalami. Kontrak itu permainan kata, jika ada satu atau dua kata nyelip saja akan bikin rugi kita. Misalkan kalian kontrak lima tahun, ya telah sepanjang 5 tahun itu kalian akan tidak untung,” katanya. (Nadhira Safa, pemagang Sekretariat Konsolidasi Seni)