Tren Kolaborasi Seni Dan Fashion

By | November 25, 2020

Tren Kolaborasi Media seni tidak pernah ada selesainya, diawali pada kanvas, dinding, patung, sampai komponen yang dekat sama sehari-harinya seperti baju. Berikut yang memicu hadirnya bermacam kerjasama antar seniman dan fesyen. Bahkan juga, Nonita Respati, founder dan Creative Director Purana Indonesia, menyebutkan kerjasama di antara seni dan dunia model membuat jenis baru untuk pasar beberapa kolektor.

Dia menjelaskan semenjak 2018, merek kepunyaannya mulai mengggandeng beberapa seniman lokal yang dipandang mempunyai potensi besar untuk berkembang dan dapat bekerja bersama. Kerjasama itu dipandang buka kesempatan pasar baru, terutamanya beberapa kolektor seni sekalian pencinta fesyen.

“Kemungkinan itu salah satunya letak seksinya kerjasama di antara seni dan fesyen,” tutur Nonita dalam Mode Nusantara Mode Festival (NUFF) 2020 bertopik Art dan Mode Collide: Local Context in Mode Collaboration yang diadakan Kamis, 20 Agustus 2020.

Kerjasama di antara dunia seni dan fesyen berlangsung di tingkat global. Nonita menyebutkan deretan contoh berhasil, seperti kerjasama Louis Vuitton dengan seniman Yayoi Kusama. Atau kreasi unik seniman terkenal Salvador DalĂ­ dengan pendesain Elsa Schiaparelli. Dalam mendesain The Lobster Dress yang membuat beberapa orang ikhlas berbaris untuk memperolehnya.

Menurut Nonita, kerjasama itu dapat dipandang investasi sebab karakternya yang bisa tahan lama dan sangat jarang. Untuk ke-2 merek, hal tersebut dipakai untuk sampaikan komplikasi visual dan kultural merek.

“Benar-benar beberapa hal semacam itu di dunia fesyen telah diperlukan, khususnya untuk mencapai pasar yang lebih luas. Kembali untuk ke-2 merek dan memperlebar pasar baik secara usia dan demografik customer tersebut,” Nonita menambah

Kunci Berhasil Kerjasama
Waktu Seni dan Fesyen Bekerjasama, Jangan Sampai Lupa Akar

Penelitian bersama tersangkut arah kreasi perlu dikerjakan. Seperti yang dikerjakan Nonita dalam Purana, membuat ketertarikan dan arah yang serupa dengan seniman. Chemistry, dan sikap sadar akan tanggung jawab ke-2 faksi sangat penting. Sama-sama pahami jatah semasing dalam berkreasi ialah kuncinya.

“Chemistry individual dan profesional itu harus berjalan imbang , ya. Sebab salah satunya faksi yang bekerjasama jangan memandang dianya semakin besar dibanding seseorang. Jadi, jika diberi saran dialog kreasi koreksi itu terus open, ingin bekerja bersama untuk bertanggungjawab pada kreasi,” katanya.
Nonita menjelaskan jika jadi tanggung jawab merek untuk mengomunikasikan pesan atau background dari satu kreasi ke customer. Penting untuk ingat jika keberhasilan kreasi tergantung pada daya magnet yang diberi pada konsumen setia. “Selanjutnya, parameter keberhasilan kerjasama itu tentu berbuntut pada sales (penjualan),” katanya.
Untuk Nonita, kerjasama bisa berlangsung berbentuk apa saja. Bukan hanya bersanding dengan seniman, merek bisa juga mempelajari dengan elemen lain di luar seni. Dia menambah jika kreasi itu berlomba menjadi yang terhebat dan paling kekinian. Tapi terkadang orang lupa akan akar kerjasama yang fleksibel, kolaboratif, dan kooperatif.